Search This Blog

Wednesday, November 20, 2019

LANGKAH WARAS BELAJAR ALKITAB #01 | CaWaBeKis | #eps008



Greetings, to you, O, Bible Lovers.
Langkah Waras belajar Alkitab #01 
                  Jika pada tujuh video sebelumnya dalam serial CAWABEKIS ini, terkesan sangat teoritis dalam hal menjelaskan tentang metode atau cara mempelajari Alkitab, mulai episode kedelapan ini dan seterusnya, saya jamin akan terdengar lebih praktis. Sebab memang tujuh video sebelumnya itu merupakan pengantar dari pelajaran tentang cara menemukan apa yang dimaksud oleh Alkitab. Oh ya, jika Anda benar-benar telah mengikuti serial ini sejak awal, dan masih menyimak sampai pada video episode kedelapan ini, itu berarti Anda benar-benar ingin tahu cara mempelajari Alkitab. Anda benar-benar Bible Lover. Pencinta Firman sejati. Apresiasi saya kepada Anda.

                  Kembali pada judul kita kali ini, yang mana tentu pertanyaannya ialah, apa saja langkah-langkah yang harus dilakukan agar kita dapat memahami teks Alkitab dan tidak membuang-buang waktu karena menerapkan langkah-langkah yang keliru dan tak berujung ataupun menemukan kesimpulan yang salah. Sebab Alkitab telah memperingatkan bahwa, “20 Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri,  21 sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah (2 Pet. 1:20-21).” Itulah sebabnya langkah-langkah yang tepat itu mutlak bagi para pembelajar firman.

      Adapun jaminan dari pada menerapkan metode yang tepat dalam mempelajari teks Alkitab ialah, kita akan segera mendekati maksud penulis atas tulisannya serta tahu apa yang Tuhan ingin kita lakukan berdasarkan teks tersebut. Paling tidak ada tiga langkah besar yang harus kita lakukan dalam mempelajari Alkitab. Yakni, Pertama, Pengamatan (observasi). Kedua, Penafsiran (interpretasi). Dan Ketiga, Aplikasi. Kita akan membicarakan langkah-langkah ini secara terperinci. Namun mari terlebih dahulu kita berkenalan secara ringkas dengan mereka bertiga ini.

                  Langkah Pertama: Pengamatan (Observasi). Artinya, suatu usaha mencari data atau fakta Alkitab untuk dipakai sebagai bahan bukti penafsiran. Pertanyaan logis yang diajukan dalam langkah ini ialah, “apakah yang saya lihat di sini?” Ingat, sekali lagi, di sini kita baru masuk pada pengamatan.

                  Langkah Kedua: Penafsiran (Interpretasi). Arti Penafsiran atau interpretasi ini ialah, suatu usaha mencoba mengupas arti yang dimaksudkan oleh pengarang melalui kalimat-kalimat yang dituliskannya. Pertanyaan yang diajukan dalam langkah kedua ini ialah, “apakah yang dimaksudkan pengarang?” Dalam kedua langkah inilah kita dapat menemukan apa yang disebut Pak Benny Solihin sebagai “Amanat Teks.”[1]

                  Langkah Ketiga: Penerapan (Aplikasi). Langkah Penerapan ialah suatu usaha mentaati apa yang telah kita amati dan tafsirkan. Pertanyaan yang diajukan dalam langkah ini ialah, “apakah yang harus saya lakukan berdasarkan arti dari bagian Alkitab ini?” Hal berkaitan dengan penjelasan dalam video sebelumnya, tentang “hermeneutik sebagai tindakan rohani.” (anda dapat melihatnya kembali jika lupa).

                  Nah, tiga langkah ini harus dilakukan dalam urutan tertentu karena satu langkah merupakan dasar untuk langkah yang berikut dan semua langkah ini harus dikerjakan dengan baik kalau kita ingin mencapai sasaran, yaitu pengertian yang benar akan isi Alkitab. Dengan begitu kita tidak akan membuang-buang waktu lagi dalam usaha memahami Alkitab.

                  Begitulah CAWABEKIS (Cara Waras Belajar Kitab Suci). Kita tentu akan membahas ketiga langkah ini secara lebih terperinci dalam video-video selanjutnya. Silahkan subscribe jika belum, komentar anda juga penting, serta bagikanlah kepada teman-teman agar mereka juga menjadi Pencinta Firman seperti Anda. Itu semua akan membantu saya terus berbagi melalui Channel ini.
                  Saya Pieter Sunkudon. Sampai jumpa dalam video selanjutnya. Tuhan Yesus memberkati Anda semua. Amin

Ket: 

[1] Metode yang dibagikan ini merupakan metode yang diajarkan di Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Yogyakarta dan STTII lainnya yang tersebar di Nusantara. Baik yang susun oleh Greg Gripentrog, dalam Diktat Kuliah: Metode Mempelajari Alkitab, ataupun oleh Saparman, dalam Belajar Alkitab: Cara dan Contoh (Yogyakarta: STTII Press, 2014). Beberapa kutipan lainnya adalah tambahan dari saya sendiri (Pieter G.O. Sunkudon).
 




                        [1] Benny Solihin, 7 Langkah Menyusun Khotbah Yang Mengubah Kehidupan (Malang: Literatur SAAT, 2014), peny., Emma Maspaitella & Daltur Rendakasiang, 58.

Definisi Hermeneutik, Eksegesis, dan Eksposisi | CAWABEKIS | #eps007


Salam bagimu wahai para pencinta Firman Tuhan. Saya berdoa anda semua selalu dalam keadaan waras. Amin? Hehe.
Dalam video ini saya akan membagikan pengertian dari tiga istilah yang harus diketahui oleh para pembelajar Alkitab seperti Anda yang kece-kece ini. Apa saja tiga istilah itu?
Simak terus ya. (intro)
Sebelum lanjut saya ingin ingatkan, bagi yang belum subscribe, silahkan tekan gambar muka di kiri bawah saya ini….
Nah, Tiga istilah yang saya maksud ialah: Hermeneutik, Eksegesis, dan Eksposisi. By the way, waktu saya hendak mempersiapkan materi ini, saya mencari-cari di sudut-sudut ruangan dunia maya, apakah ada materi tentang yang akan saya bicarakan ini, dan hasilnya… ternyata banyak. Kemudian saya memilih untuk memakai materi yang telah ditulis dengan sangat baik oleh seorang teolog yang cukup terkenal akhir-akhir ini, yang menurut saya tidak diragukan lagi keilmuannya, yaitu bapak Deky Nggandas. 
Jangan kuatir, Saya sudah meminta izin beliau untuk membagikan tulisannya dalam video kali ini. Nanti cek link tulisannya di deskripsi yaa.
Baik, kita mulai saja tanpa berlama-lama.
Pertama, istilah Hermeneutik.
Istilah hermeneutik berasal dari kata bahasa Yunani: hermeneuo, yang secara literal berarti: “menyampaikan [sebuah pemikiran atau keinginan]”; “menjelaskan [sebuah ucapan]”; “menerjemahkan [sesuatu dari satu bahasa ke bahasa lainnya]”. Secara historis, kata ini berhubungan dengan nama dewa Hermes dalam mitologi Yunani. Dewa Hermes adalah dewa yang bertugas menyampaikan berita atau menjelaskan hasil keputusan para dewa di khayangan bagi manusia. Dewa ini juga disinyalir sebagai dewa ilmiah, penemuan, kefasihan bicara, seni tulis, dsb.
Memang sejak zaman kuno, kata hermeneutik sudah dipakai dalam arti “menafsir” atau “memberikan penjelasan [terhadap sesuatu yang tidak atau kurang jelas]”. Meski begitu, baru pada abad 17 Masehi, kata ini digunakan sebagai istilah teknis yang merujuk kepada teori-teori penafsiran, ketika kata bahasa Latin: hermeneutica dipakai dalam arti ini.
Kalau begitu, apa pengertian hermeneutik dalam hubungan dengan menafsirkan Alkitab? Ini sudah pernah saya singgung dalam video sebelumnya: https://youtu.be/0-NfjfJlFE8.
Jadi perlu ditegaskan bahwa secara teknis, kata ini jika dihubungkan dengan penafsiran Alkitab, memiliki tiga aspek pengertian yang berbeda namun berkaitan erat, yaitu: Pertama, hermeneutik sebagai ilmu. Dalam aspek ini, kata hermeneutik digunakan dalam arti ilmu yang mempelajari tentang proses penafsiran Alkitab. Proses penafsiran ini mencakup: langkah-langkah atau hukum-hukum atau metode-metode atau prinsip-prinsip yang dijadikan acuan dalam penyelidikan dan penafsiran Alkitab. Kedua, hermeneutik sebagai seni. Dalam hal aspek ini, yang ditekankan adalah pengembangan kecakapan atau ketrampilan seorang penafsir sehingga makin lama makin cakap dan terampil dalam menafsirkan Alkitab. Dan ketiga, hermeneutik sebagai sebuah tindakan spiritual. Pemahaman dari aspek ini adalah bahwa hermeneutik bukan sekadar sebuah ilmu dan proses pengembangan kecakapan menafsir, melainkan juga dibutuhkan untuk pertumbuhan rohani si penafsir termasuk pertumbuhan rohani komunitas Kristen secara umum.

Kedua, Eksegesis.
Istilah berikut yang berkaitan erat dengan hermeneutik adalah istilah eksegesis (Exegesis). Kata ini berasal dari kata bahasa Yunani: eksegeomai (bnd. Yoh. 1:18; Kis. 10:8; 15:12, 14; 21:19). Secara literal, kata ini berarti “menggali keluar” atau  “memimpin keluar” (to lead out).
Dalam hubungan dengan penasiran Alkitab, eksegesis berarti penerapan langkah-langkah atau metode-metode atau prinsip-prinsip hermeneutik dalam menemukan arti atau maksud mula-mula dari si penulis kepada pembaca mula-mula dari teks yang hendak ditafsirkan [perhatikan penekanan saya pada kata-kata yang dimiringkan]. Definisi ini merujuk kepada dua hal, yaitu: Pertama, eksegesis adalah penerapan dari hermeneutik. Hermeneutik adalah ilmunya sedangkan eksegesis adalah penerapan dari ilmu tersebut. Kedua, fokus dan tujuan penyelidikan eksegesis adalah mencari tahu atau menemukan maksud atau arti mula-mula dari penulis kepada pembaca mula-mula (what it meant). Fokus ini merupakan sebuah keharusan karena Alkitab memang ditulis bagi (for) kita tetapi tidak untuk (to) kita. Maksudnya, Alkitab ditulis pada satu masa atau jaman tertentu yang tentu penulisannya berkait dengan masa atau jaman yang bersangkutan.
Pada umumnya, para ahli membagi langkah-langkah eksegesis menjadi dua bagian, yaitu: Pertama, langkah-langkah umum (ada juga yang menyebutnya: “Hermeneutik Umum” – General Hermeneutics); dan kedua, langkah-langkah khusus (ada yang menyebutnya: “Hermeneutik Khusus” – Special Hermeneutics). Yang dimaksud dengan langkah-langkah umum adalah langkah-langkah yang dapat diterapkan pada semua kitab di dalam Alkitab. Sedangkan yang dimaksud dengan langkah-langkah khusus adalah langkah-langkah yang hanya bisa diterapkan sesuai dengan jenis sastra (genre) dari teks yang hendak ditafsirkan. Lain kali kita bahas kedua kategori langkah eksegesis ini.

Ketiga, Eksposisi.
Istilah eksposisi dalam hubungannya dengan penafsiran Alkitab merujuk kepada aplikasi kontemporer (masa kini) atas dasar hasil penyelidikan eksegesis yang sudah dilakukan (what it means). Eksposisi itu biasanya dapat berupa, misalnya: devosi (saat teduh pribadi) dan khotbah (sermonic).
Kesimpulan (Bagaimana hubungan ketiganya?)
Untuk melihat hubungan mereka bertiga… (haha… kayak cinta segitiga kah?)
Coba lihat bagan ini:
https://dekynggadas.files.wordpress.com/2011/12/hubungan-hee.jpg?w=402&h=135
Bagan di atas menekankan sebuah urutan yang penting dalam penafsiran Alkitab. Pertama-tama, seorang penafsir harus melakukan eksegesis. Setelah itu, atas dasar hasil penyelidikan eksegetis tersebut, barulah si penafsir boleh menarik aplikasi atau signifikansi atau penerapannya untuk kebutuhan masa kini. Jadi, dari eksegesis baru ke eksposisi. Tidak boleh dibalik!
Begitulah Cara Waras Belajar Kitab Suci (CAWABEKIS). Bagaimana menurut Anda semua? Berilah komentar pada kolom komentar. Tidak perlu sungkan.
Saya Pieter Sunkudon. Sampai Jumpa.

Wednesday, November 6, 2019

CAWABEKIS: Cara Waras Belajar Kitab Suci || eps.006 || Belajar Alkitab Pakai Metode? Ngapain sih buang-buang Waktu?


klik link berikut untuk video ulasan:
Metode Waras Belajar Alkitab

 “Belajar Alkitab pakai metode? Ngapain sih buang-buang waktu?” haha… Hari-hari ini banyak orang yang berpikir seperti itu dan sepertinya mereka terus bertambah setiap hari. Baik dari kalangan orang Kristen maupun non-Kristen. Mereka beranggapan, “untuk apa ‘metode’ dalam mempelajari Alkitab? Itukan buku rohani yang dapat dipahami sesuai kebutuhan. Vanhoozer bilang begini:
      Akhir-akhir ini, penafsiran teks telah menjadi minat minoritas dan, menurut pendapat beberapa orang, tugas yang mustahil. Pada masa kini, para kritikus mutakhir melihat motif pembaca sebagai makna dari teks. Makna “penafsiran” itu sendiri telah bergeser; bukan sebagai klaim pengetahuan dari penemuan yang seseorang buat mengenai makna teks, tetapi penafsiran telah menjadi sebuah cara untuk merujuk apa yang pembaca buat terhadap teks. Penafsir gaya baru ini tidak mengakui prinsip realitas (sebagaimana adanya), hanya prinsip kenikmatan (sebagaimana yang aku ingini). [1]
                  Berbahaya bukan? Jika ini terus berkembang, kita sudah bisa bayangkan bagaimana kebenaran akan menjadi semakin nampak abu-abu dan absurd. Kita tahu bahwa semua karya tulis haruslah dipahami sesuai dengan maksud penulisnya, ia menuangkan maksud itu sesuai dengan kaidah-kaidah penulisan yang diyakininya tepat bagi karyanya. Ia tentu mengharapkan agar setiap pembaca dapat mempelajari tulisan dan menemukan maksudnya sebagaimana ia menuliskannya. Metode adalah hal yang sangat penting untuk mencapai tujuan itu. Dalam sebuah tulisan yang diberi judul Sacred Hermeneutik dikatakan, “kita perlu metode yang benar dari penafsiran agar tidak menjadi bingung, mana SUARA ALLAH dan mana SUARA MANUSIA.”[2]
                  Apa sih metode itu? Kamus Besar Bahasa Indonesia menerangkan begini: “metode/me·to·de/ /métodé/ n (kata benda) 1 cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki; cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan;[3] Singkatnya kira-kira begini, “Mengerjakan langkah-langkah yang tertentu, dalam urutan yang tertentu untuk menjamin hasil yang tertentu.”[4]
                  Misalnya kita hendak memasak kue, ada langkah-langkah tertentunya, seperti mencari tahu bahan-bahannya, menentukan biaya, membeli bahan, mempersiapkan peralatannya, dan seterusnya. Lalu urut-urutannya, mungkin menuangkan tepung, lalu air, selanjutnya diaduk, tambahkan gula, garam, atau bahan-bahan lainnya (anda yang lebih tahu soal itu… hehe). Bayangkan jika kita tidak peduli dengan langkah-langkah dan urutan-urutan dalam pembuatan kue ini, apakah akan tercipta suatu kue yang lezat? Alih-alih kue lezat, malahan petakalah yang ada dalam kue. Begitu pulalah dalam mempelajari teks Alkitab. Menggunakan metode adalah keharusan.
                  Ada beberapa nilai dari pemakaian metode dalam mempelajari Alkitab. Pertama, metode yang baik akan menolong kita menghindari tiga hal: (1) menghindarkan kita dari membuang waktu; (2) menghindari ketidakseksamaan/ketidaktelitian; (3) Menghindari kedangkalan dalam pengertian dan pelayanan. Kedua, metode yang baik memungkinkan tiga lagi bagi kita: (1) Memungkinkan kita berpikir/bergumul untuk diri sendiri; (2) Memungkinkan kita mengalami sukacita dalam penemuan; dan (3) Memungkinkan kita makin jatuh cinta dengan pengarang Alkitab, yaitu Allah sendiri.
                  Nah sekarang, jika memang kita harus menggunakan metode dalam mempelajari Alkitab, metode apakah yang cocok? Jawabnya ialah metode induktif. Begini, biasanya ada dua cara yang dipakai untuk mempelajari Alkitab, yakni yang disebut deduktif dan induktif. Deduktif artinya, penafsir Alkitab sudah mempunyai kesimpulan tertentu sebelum dia mempelajari Alkitab. Karena itu ia menyelidiki Alkitab dengan tujuan untuk mencari ayat-ayat yang mendukung kesimpulannya tersebut. Lalu induktif artinya apa? Induktif adalah tidakan sebaliknya, penafsir terlebih dahulu mencari data dan fakta Alkitab, kemudian ia menarik kesimpulan berdasarkan data dan fakta yang ia temukan.
                  Jadi mengapa harus induktif? Ya, sebab pendekatan yang memakai metode induktif merupakan cara mempelajari Alkitab yang paling dapat dipertanggung-jawabkan kebenarannya karena metode ini merupakan kesimpulan dari apa yang dinyatakan Allah sendiri di dalam Alkitab.

Anda menyaksikan serial CAWABEKIS (Cara Waras Belajar Kitab Suci).
Untuk mendapat notifikasi tentang video terbaru dari channel ini, please, jangan malu-malu untuk like, subscribe, and share.
Pakai cara yang waras agar Kebenaran membuat Anda puas.
Saya Pieter Sunkudon. Sampai Jumpa.


                        [1] Kevin J. Vanhoozer, Apakah Ada Makna Daam Teks ini?: Alkitab, pembaca, dan moralitas pengetahuan sastra (Surabaya: Momentum, 2013), Peny., Stevy Tilaar, pen., Jadi S. Lima, 50.

                        [2]Sacred Hermeneutik, 1. [diterjemahkan Langsung oleh penulis].

                        [3] metode,” https://kbbi.web.id/ (4 November 2019)

                        [4] Gripentrog, Diktat Kuliah: MMAP, 4.

Thursday, October 31, 2019

CAWABEKIS: Cara Waras Belajar Kitab Suci || eps.005 || Sikap yang "waras" Untuk Belajar Firman Tuhan (Ams. 2:1-6)

 Klik link untuk video ulasan ini:
Sikap yang "waras" untuk belajar FT

                  “Ada tiga perspektif yang sangat penting untuk diketahui agar dapat memiliki pemahaman yang tepat dari pekerjaan penafsiran”[1] demikian kata Osborne. “Pertama, hermeneutik merupakan ilmu pengetahuan. . .; Kedua, hermeneutik merupakan suatu seni. . .; Ketiga. . . hermeneutik merupakan suatu tindakan rohani, bergantung pada pimpinan Roh Kudus.”[2]
                  Sebagai ilmu pengetahuan dan seni, berarti proses mempelajari Firman Tuhan ini akan melibatkan, pertama nalar atau akal budi kemudian juga imajinasi dan keterampilan kita. Ingatkan bagaimana Tuhan Yesus menjawab seorang ahli taurat yang mencobai-Nya dengan bertanya,   36 "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?"  37 Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu (Mat. 22:36-37). Pehatikan bahwa, kata “akal budi” di sana diterjemahkan dari kata Yunani dia,noia (dianoia) artinya: mind, understanding, intelligence (pikiran, pengertian, inteligensi). Dalam hal ini, menurut saya tindakan mempelajari Firman Allah adalah salah satu bukti kasih kepada Allah.
      Sebelum kita memikirkan metode mempelajari Firman Tuhan itu (ini berhubungan dengan akal, ketrampilan, serta imajinasi kita), kita harus terlebih dahulu memikirkan keadaan hati kita (ini tentu berhubungan dengan kerohanian kita). Ya, kali ini kita akan bicara tentang bagaimana sikap yang “waras” dalam mempelajari Firman Tuhan. [3]
      Amsal 2:1-6 akan menjadi landasan pembahasan ini:
Hai anakku, jikalau engkau menerima perkataanku dan menyimpan perintahku di dalam hatimu,  2 sehingga telingamu memperhatikan hikmat, dan engkau mencenderungkan hatimu kepada kepandaian,  3 ya, jikalau engkau berseru kepada pengertian, dan menujukan suaramu kepada kepandaian,  4 jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam,  5 maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah.  6 Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian (Ams. 2:1-6).
                  Teks ini menunjukan kepada kita bahwa, paling tidak ada empat sikap yang harus dimiliki seorang pembelajar Alkitab. Pertama, sikap yang mau belajar dan terbuka untuk diajar (ay. 1,2). Sebagai manusia berdosa, yang lahir dan terjual di pasar dosa, tentulah kita telah terpapar dengan konsep dunia begitu lama, lingkungan dosa itu telah membangun kerangka yang sangat kokoh dalam diri kita sehingga pada saat berhadapan dengan kebenaran, pastilah akan ada gejolak dalam jiwa, kita terkejut telah berhadapan dengan cermin Kebenaran yang bernama Alkitab, ia sedang menunjukan segala keburukan kita. Ada dua pilihan bagi kita, menyingkirkan atau bahkan menghancurkan cermin itu, atau bersedia untuk dibersihkan.
                  Kedua, sikap yang bergantung pada Allah untuk mengerti firman-Nya (ay. 3). Sikap ini menuntut dua syarat: pertama, seseorang harus dilahirkan kembali. Paulus dalam 1 Kor. 2:14-15 berkata, “14Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.  15 Tetapi manusia rohani menilai segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain.” Syarat yang kedua ialah, kita harus diajar oleh Roh Kudus. Tuhan Yesus dalam Yohanes 16:13-15 berkata,
13 Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.  14 Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.  15 Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku."
                  Sikap yang Ketiga ialah, sikap yang rajin dan bertekun (ay. 4). Nah, jangan mengira bahwa setelah berserah kepada Roh Kudus lalu kita dapat mengabaikan kerajinan dan ketekunan. Pelayanan Roh Kudus sebagai guru kita tidak berarti bahwa kita tidak harus berusaha untuk mengerti Alkitab. Jadi pengertian yang tepat akan isi Alkitab tidak terjadi secara otomatis tanpa usaha kita. 2 Timotius 2:15 berkata15 Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.”
                  Yang terakhir adalah sikap yang positif atau optimistis (ay. 5-6). Kelihatannya ayat 5 & 6 adalah kesimpulan dari ayat 1-4. Apabila kita rangkum keseluruhan bagian tersebut (ayat 1-6), maka dapat merupakan sebuah kalimat demikian: “Kalau kita (1) Terbuka; (2) Bergantung; dan (3) Rajin, maka kita akan mendapat pengertian dan hikmat.”
                  Anda sedang menyaksikan serial CAWABEKIS (Cara Waras Belajar KItab Suci).dan ini adalah episode ke-5. Jadilah pencinta firman. Dan, please like, Comment, and Share video ini jika Anda diberkati. 
Saya Pieter Sunkudon. Sampai jumpa.


                        [1] Osborne, Spiral Hermeneutik, 2.
                        [2] Ibid.
                        [3] Diadaptasi dari Greg Gripentrog, Diktat Kuliah: Hermeneutik (Sem. I,II,III), STTII Yogyakarta, t.t.